Stress

Tumbuh Dewasa Itu Seru Tapi Juga Bikin Stres

Tumbuh Dewasa Itu Seru, Tapi Juga Bikin Stres – Masa kuliah adalah salah satu fase paling penting dalam hidup seseorang. Ada yang menikmati masa ini dengan pergi ke pesta, nonton film, dan bersenang-senang. Tapi ada juga yang harus bekerja sambil membiayai keluarganya. Seperti fase kehidupan lainnya, masa ini juga penuh dengan tantangan dan tingkat stres yang terus meningkat.

Sebagian stres sebenarnya baik dan dibutuhkan, yang disebut Eustress. Ini adalah tingkat stres yang justru bisa memotivasi kita untuk melakukan yang terbaik. Namun, ada juga stres yang buruk dan bisa berdampak negatif jika terus-menerus terjadi. Stres jenis ini disebut Distress.

Kebebasan yang Mendadak Datang
Hal pertama yang berubah saat kuliah adalah kebebasan penuh yang tiba-tiba kita dapatkan. Karena belum terbiasa, kadang kita jadi kebablasan. Ada banyak keputusan penting yang harus diambil, seperti:

– Mau ambil jurusan apa?
– Mau tinggal di rumah atau di kos?
– Mau mengejar nilai atau sekadar lulus?

Begitu mata kuliah dipilih, masalah berikutnya adalah nilai. Banyak mahasiswa yang tertekan untuk mendapatkan nilai bagus. Seringkali, dosen lebih memperhatikan mahasiswa dengan nilai tinggi daripada mereka yang sebenarnya berusaha keras untuk belajar. Tekanan akademik ini, ditambah keinginan untuk diakui, bisa menambah tingkat stres.

Mahasiswa yang kuliah dengan beasiswa atau berasal dari keluarga kurang mampu sering mengalami stres lebih tinggi. Banyak dari mereka harus bekerja paruh waktu, sehingga hampir tidak punya waktu untuk bersantai.

Persahabatan dan Tekanan Sosial
Teman adalah bagian penting dalam hidup. Mereka memberi warna dan bisa membantu kita memahami diri sendiri. Tapi, membangun pertemanan baru dan menyesuaikan diri dengan gaya hidup mereka bukanlah hal mudah.

Misalnya, seorang yang tidak merokok bisa merasa tertekan dengan pertanyaan:
“Apa aku harus merokok biar bisa diterima di kelompok ini?”

Banyak yang akhirnya mengubah prinsip mereka hanya demi diterima oleh lingkungan. Dilema antara mempertahankan nilai-nilai diri sendiri atau mengikuti tekanan teman sebaya bisa menjadi sumber stres tersendiri.

Cinta dan Drama Percintaan
Cinta juga menjadi salah satu hal besar dalam kehidupan remaja. Tapi, ada banyak jenis hubungan:

– Ada yang menganggap cinta hanya permainan.
– Ada yang pacaran karena ingin terlihat keren.
– Ada yang hanya sekadar iseng.
– Ada juga yang benar-benar percaya bahwa cinta itu abadi.

Karena perbedaan pandangan ini, hubungan bisa menjadi sumber stres yang besar. Seorang teman saya pernah berkata, “Pacarku menganggap cinta itu cuma permainan. Kalau kuat, kamu menang. Kalau lemah, kamu kalah. Bahkan seks dianggap seperti baju atau sepatu, cuma sekadar kebutuhan.”

Kadang, banyak orang yang menyamakan cinta dengan seks, sehingga ada perempuan yang merasa tertekan untuk memenuhi keinginan pasangannya. Dalam beberapa kasus, hal ini bisa berujung pada pelecehan atau pemaksaan. Sayangnya, banyak perempuan yang malu untuk bicara atau mencari bantuan, padahal ini bisa berdampak buruk pada kesehatan mental dan fisik mereka.

Putus Cinta dan Dampaknya
Putus cinta tidak pernah mudah. Banyak orang jadi meragukan diri sendiri, merasa sedih, bahkan kehilangan kepercayaan diri. Di usia 17 tahun, kebanyakan mahasiswa sudah pernah merasakan patah hati dan jatuh cinta lagi. Memasuki usia 18 tahun, mereka menghadapi stres baru: mereka sudah dianggap dewasa dan memiliki tanggung jawab yang lebih besar.

Di titik ini, ada konflik batin yang muncul. Mereka bukan lagi anak-anak, tapi juga belum sepenuhnya dewasa. Mereka harus menemukan cara yang diterima secara sosial untuk mengekspresikan diri.

Krisis Identitas dan Tekanan dari Keluarga
Masa ini juga sering menjadi momen pencarian jati diri. Banyak remaja mulai membentuk identitas mereka sendiri, tetapi sering kali nilai-nilai yang mereka anut berbeda dengan yang diajarkan oleh orang tua atau keluarga.

Di beberapa budaya, seperti di India, tekanan sosial berbasis gender masih sangat kuat. Perempuan sering kali dipaksa untuk menikah meskipun mereka masih ingin melanjutkan pendidikan. Mereka diharapkan untuk mengurus rumah dan menjalankan peran domestik, sementara pendidikan hanya dianggap sebagai prioritas sekunder.

Di sisi lain, anak laki-laki lebih diberi kebebasan untuk bekerja dan mencari penghasilan. Mereka memiliki lebih banyak ruang gerak dibandingkan perempuan.

Dari survei yang saya lakukan, inilah beberapa sumber stres yang paling umum di kalangan remaja. Namun, masih banyak tantangan lain yang dihadapi oleh anak muda zaman sekarang. Stres yang mereka alami jauh berbeda dari yang dihadapi orang tua atau kakak-kakak mereka.

Tapi ada satu hal yang pasti: remaja saat ini lebih sadar akan hak mereka dan ingin membuat perubahan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *