Stress

Pergilah ke Arah di Mana Energimu Kuat

Pergilah ke Arah di Mana Energimu Kuat – Aku pernah menjalani sebuah proyek yang, seiring waktu, mulai terasa terlalu berat untukku.

> “Tetaplah berada di pusatmu, maka kamu akan tahu ke mana harus melangkah.”
> – Terry Dobson, praktisi aikido dan penulis *Aikido in Everyday Life*

Aku pernah menjalani sebuah proyek yang, seiring waktu, mulai terasa terlalu berat untukku. Saat itu, aku meminta izin kepada seorang teman sekaligus kolega untuk mengadakan workshop di New England, yang akan ia ajarkan. Setelah berbulan-bulan mengumpulkan informasi, aku hampir mencapai tahap memilih dan menyewa tempat. Setelahnya, akan ada proses promosi, undangan, pengiriman informasi, registrasi, dan sebagainya. Saat itu adalah awal karier baruku, dan aku mulai merasa kewalahan. Aku bahkan berharap tidak pernah memulai proyek ini, tetapi takut untuk mundur karena tidak ingin mengecewakan temanku.

Perasaan ini sulit untuk kuakui. Aku mengabaikan suara kecil dalam diriku yang berkata “Berhenti,” karena ada suara lain yang lebih keras mengatakan bahwa aku harus menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Ada orang lain yang bergantung padaku. Mendengarkan suara kecil itu terasa berisiko, karena aku mungkin mengecewakan orang lain. Lebih mudah untuk terus maju, meskipun itu berarti mengabaikan intuisi sendiri.

Namun, suara kecil itu terus mengganggu…

Akhirnya, aku memutuskan untuk menelepon temanku dan membicarakan hal ini, meskipun aku tidak tahu pasti apa tujuan dari pembicaraan itu. Yang aku tahu, aku harus mengikuti intuisi. Aku memang seseorang yang sangat peduli dengan pendapat orang lain, dan saat itu itulah yang paling aku pikirkan. Tapi aku bersyukur karena berani menelepon, karena dari percakapan itu, aku mendapatkan pelajaran berharga yang masih aku gunakan sampai sekarang ketika dihadapkan pada pilihan sulit.

Hadiah Berharga

Saat aku menelepon, temanku mengangkatnya. Kami berbasa-basi sebentar, lalu aku mulai menceritakan apa yang aku rasakan. Ia mendengarkan dengan sabar. Setelah aku berhenti sejenak, ia berkata dengan tenang, “Judy, pergilah ke arah di mana energimu kuat.”

Kalimat itu langsung masuk akal bagiku. Sederhana, tapi benar. Aku pun bertanya pada diri sendiri, Di mana energiku kuat? Jawabannya jelas: bukan di proyek ini. Proyek ini justru mengalihkan fokusku dari apa yang sebenarnya ingin aku lakukan, yaitu merancang dan menjalankan workshop-ku sendiri. Itu yang membuatku bersemangat. Itu yang selalu ada dalam pikiranku. Saat menyadari hal itu, semuanya terasa lebih jelas.

Rasanya seperti saat berlatih aikido—seni bela diri yang sering menjadi metafor dalam hidupku. Jika kita mencoba memaksakan teknik dengan otot dan tenaga, hasilnya hanya ketegangan dan stres, bahkan bisa melukai diri sendiri atau pasangan latihan. Tapi jika kita bergerak dari pusat energi dan mengikuti ki (energi kehidupan), semuanya menjadi lebih mudah dan alami.

Akhirnya, aku tahu bahwa aku harus menghentikan proyek ini. Itu adalah keputusan yang tepat. Jika aku terus memaksakan diri, aku akan menghabiskan energi dan mungkin malah merusak hubungan baik dengan temanku. Sebenarnya, ia sudah lebih dulu menyadari bahwa ini bukan waktu yang tepat untukku.

Hari itu, aku belajar sebuah pelajaran penting dari seorang guru yang lembut. Aku berusaha untuk selalu mengingatnya, meskipun butuh latihan terus-menerus. Teman-temanku tahu bahwa aku sering menyebut diriku sebagai “rudal pencari persetujuan”—bukan berarti ingin disukai orang lain itu salah, tapi sekarang aku lebih sadar apakah itu satu-satunya alasan yang mendorongku. Aku belajar untuk mengikuti suara hatiku. Kadang aku tetap melanjutkan sesuatu karena ingin diterima, tapi kadang aku juga berhenti dan mengevaluasi motifku. Sering kali, ada cara untuk menyeimbangkan antara keinginan mendapatkan apresiasi dan tetap setia pada suara hati.

Aku belajar untuk mendengarkan diri sendiri.

Mengapa aku merasa tertekan? Di mana energiku sebenarnya kuat? Ini adalah pertanyaan yang selalu hidup. Jika kamu merasa sedang menolak sesuatu, cobalah gunakan pertanyaan ini sebagai panduan. Kamu akan menyadari bahwa kamu memiliki lebih banyak kendali dari yang kamu kira.

Latihan Praktis:

✅ Apakah kamu sedang menghadapi pilihan sulit? Perhatikan apakah logikamu mengarah ke satu arah, sementara hatimu menarik ke arah lain.

✅ Proses *centering* membantumu menyatukan kepala dan hati, logika dan emosi, pikiran, tubuh, serta jiwa.

✅ Duduklah dengan tenang dan renungkan apa yang benar-benar penting bagimu. Kadang, kamu akan menyadari ada dua nilai dalam dirimu yang saling bertentangan.

✅ Tuliskan pemikiran, perasaan, dan reaksimu terhadap situasi tersebut.

✅ Jika memungkinkan, biarkan pertanyaan itu tetap ada dalam pikiranmu untuk sementara waktu. Kembalilah ke pertanyaan itu di waktu yang berbeda.

✅ Di mana energimu kuat? Jawaban itu akan muncul seiring waktu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *